PEMBELAJARAN MENDALAM YANG BELUM MENDALAM Sebuah catatan refleksi dari perjalanan pendampingan supervisi Oleh: Sri Subekti, S.Pd., M.Pd.
Menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial saat ini, standar proses pelaksanaan pembelajaran yang diatur dalam Permendikbud No 1 Tahun 2026 adalah Pembelajaran Mendalam. Sebuah pendekatan pembelajaran untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran menjadi bermakna, menggembirakan, dan berkesadaran. Pembelajaran menekankan pengalaman utuh (memahami, mengaplikasi, merefleksi) dan berpusat pada murid. Pendidik bukan lagi sebagai sumber informasi tetapi lebih dari itu yaitu sebagai teladan, pendamping, dan fasilitator. Ekspektasi besar digantung dalam transformasi pendekatan pembelajaran sebagaimana standar proses pembelajaran yang telah ditetapkan.
Apa yang tergambar dalam pelaksanaan pembelajaran mendalam? Dalam pikiran saya terdapat ilustrasi murid mengikuti proses dengan antusias, eksploratif, dan interaktif tinggi karena mereka aktif berpikir kritis. Suasana olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga menjadi bagian yang seru dalam proses pembelajaran. Murid menikmati proses belajarnya, guru antusias untuk membantu proses belajar dengan semangat. Sepertinya imajinasi itu tidak berlebihan karena dari hasil observasi rencana pembelajaran guru yang dibuat, sudah sangat lengkap. Rata-rata lebih dari 3 halaman, lengkap dari identifikasi, desain pembelajaran, pengalaman belajar sampai asesmen.
Perjalanan pendampingan supervisi di sejumlah SMA, baik negeri maupun swasta, secara umum belum menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan pembelajaran terdahulu. Pola pembelajaran masih cenderung “seperti biasanya”. Belum ada yang istimewa. Guru membuka pelajaran dengan penjelasan, peserta didik berdiskusi dalam kelompok menggunakan gawai, lalu mempresentasikan hasil diskusi melalui slide presentasi, apapun paedagogis yang dituliskan dalam RPM. Proses penting murid benar benar mengembangkan rasa ingin tahunya belum menjadi bagian yang nyata dari proses pembelajaran. Proses olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga belum sepenuhnya tergambar dalam proses pembelajaran. Murid mengikuti pembelajaran mengikuti alur guru dalam memahamkan konsep mata pelajaran. Tentunya bersifat tekstual. Kebermaknaan kontekstualisasi kehidupan dari materi yang disampaikan belum tampak di sebagaian besar pengamatan. Inikah yang dinamakan "Belajar tapi tidak belajar?" Pelaksanaan pembelajaran mendalam masih dipahami sebatas perubahan format, bukan perubahan paradigma. Perencanaan pembelajaran sering kali bersifat administratif dan perubahan istilah. Aktivitas belajar belum sepenuhnya mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), kemandirian belajar, apalagi pembentukan karakter. Diskusi kelompok dan presentasi yang dilakukan lebih menekankan pada penyelesaian tugas, bukan pada proses eksplorasi yang hidup dari murid yang sedang belajar berpikir kritis, pemecahan masalah, atau pengambilan keputusan. Akibatnya, pembelajaran belum benar-benar menantang peserta didik untuk memahami makna, mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, dan mengembangkan potensi dirinya secara optimal.
Kondisi ini menimbulkan kegelisahan sekaligus keprihatinan. Pembelajaran yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya generasi kritis, mandiri, dan berkarakter, justru berisiko terjebak pada rutinitas yang rapi namun dangkal. Peserta didik tampak aktif secara fisik, tetapi belum tentu aktif secara kognitif dan reflektif. Di sisi lain, guru pun berada dalam posisi yang tidak mudah, dihadapkan pada tuntutan kebijakan, keterbatasan waktu, serta beban administrasi. Pun kondisi murid yang seolah tidak tertarik dan tidak bergairah dalam belajar. Namun demikian, refleksi ini menjadi pengingat bahwa perubahan pembelajaran tidak cukup dimulai dari dokumen, melainkan dari kesadaran pedagogis guru tentang hakikat belajar itu sendiri. Juga kesadaran murid tentang menggapai masa depan perlu perjuangan.
Jika kita ingin memimpin masa depan, maka pembelajaran mendalam perlu diarahkan pada perubahan praktik nyata di kelas. Guru perlu memulai dari pemahaman peserta didik melalui diagnosis awal yang sederhana namun bermakna, merancang pertanyaan pemantik yang menantang nalar, serta menciptakan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan nyata. Diskusi dan presentasi hendaknya difokuskan pada proses berpikir, argumentasi, dan refleksi, bukan sekadar produk akhir. Dengan demikian, pembelajaran mendalam dapat benar-benar menjadi sarana menumbuhkan generasi SMA yang kritis dalam berpikir, mandiri dalam belajar, dan kuat dalam karakter. Seperti yang disampaikan John Dewey, “Education is not preparation for life; education is life itself.” Pembelajaran mendalam adalah upaya menghadirkan kehidupan nyata ke dalam kelas, agar peserta didik benar-benar belajar untuk hidup dan berkembang sesuai kapasitas terbaiknya. (bl@28126)
